Senin, 03 April 2017

[Resensi] Setelah Kamu Pergi Karya Dwitasari

Setelah Kamu Pergi
Penulis :
Dwitasari 
Penerbit: Bentang Belia
ISBN: 9786024301019
Tahun Terbit: Januari 2017
Genre: Romance
Rating : 3/5

Blurb

Aku melepas pelukmu dengan harapan ini bukan yang terakhir. Namun, kamu tetap pergi. Air mataku yang jatuh satu per satu, tak pernah kamu gubris lagi. Begitu saja kamu putuskan untuk lari, tanpa peduli dengan segalanya yang sudah kita bangun sejauh ini. Sehebat apa dia hingga mengubahmu jadi lelaki yang tak lagi kukenali?

Kamu ciptakan perpisahan, tanpa menatap aku yang kesakitan. Kamu kuburkan semua kenangan, seakan aku tidak pernah kamu jadikan tujuan. Kamu bunuh semua harapan hingga membuat aku muak dan kelelahan.

Kapan hari itu akan datang? Saat pada akhirnya kamu akan berhenti mencari, kemudian menyadari bahwa akulah harusnya tempatmu kembali.
Mereka yang mengenal cinta kadang hanyut dalam belaiannya sampai lupa bahwa cinta bisa mengahanyutkan dan membutakan. Tanpa sadar ketika sudah masuk kedalamnya tak akan sadar lagi bahwa segenap jiwa sudah diberikan pada yang tercinta. Adakalanya cinta akan pupus dan hancur ketika semua berubah. Ketika cinta berubah yang tadinya manis jadi hampa. Lalu saling menyalahkan dan mundur perlahan. Yang tertinggal bukanlah lagi kenangan-kenangan indah, yang buruknya justru tersingkap keluar.

Ketika cinta tinggal menjadi masa lalu apakah akan terus terjebak didalamnya selamanya? Atau memilih bangkit dan menemukan kebahagiaan yang baru? Setiap orang punya jawabannya sendiri. Mereka yang pernah terluka akan menemukan jawabannya seiring berjalannya waktu.


Masa lalu tidak mengaharapkanmu terus menatap kebelakang. Ia yang ada dibelakang belum tentu menoleh padamu. Justru masa lalu mengajarimu untuk bangkit dan menemukan kebahagiaan yang lain. Selalu ada pelajaran yang tersisip dari kisah cinta yang kandas. Masa lalu tidak seharusnya menghalangimu untuk meraih masa depan yang lebih baik. Masa lalu selalu berada di belakang, jangan mau dibuat kalah olehnya.

Mencoba bangkit meningkalkan masa lalu bukan berati menjadikan orang lain sebagai pelampiasan bukan? Bagaimana jika orang baru yang awalnya tulus memberikan cintanya justru hanya dianggap sebagai pelampiasan. Dianggap tanpa status atau pelarian sangat terasa sekali sakitnya. Apalagi jika tidak dikatakan sejak awal, hanya memberi harapan palsu semata sekalipun itu tidak diutarakan.
\
Hal yang sama dialami oleh "Aku" dalam buku terbaru Dwitasari, Tokoh yang tidak disebutkan nama aslinya itu baru saja diputuskan oleh kekasihnya. Ia memendam kisah masa lalunya seorang diri. Berharap dengan menemukan yang baru ia akan melupakan pahit yang ia terima.

Ia dulu menganggap Abang adalah segalanya. Segala hal menuntunnya kembali pada ingatan masa-masa kala mereka masih bersama. Tapi tidak ada yang sama dalam hubungan percintaan. Pasti ada yang berubah, pasti ada yang mundur dan bahkan kehilangan rasa.

"Makin aku sayang sama kamu, makin aku ngga siap buat kehilangan mu..."

Tidak ada penyebab yang pasti mengapa mereka berdua putus. Tapi yang Aku alami adalah si Abang perlahan-lahan berubah sikapnya. Jarang berkomunikasi, lost contact lalu putus secara sepihak oleh si Abang. Padahal disaat itu Aku sedang cinta matinya. Aneh tapi begitulah kenyataan berkata, 

"Perjalanan kita justru berakhir saat aku sedang sangat mencintaimu"
Lalu tibalah di satu ketika Aku ingin melupakan masa-masa sulit setelah putus. Ia mencari pria baru untuk menjadi pelarian hatinya. Ia memanggilnya Koko.
"Aku tidak berharap pada siapapun lagi, yang aku harapkan sekarang adalah sembuh dari patah hati"


"Meskipun pada akhirnya tak bersama, setidaknya kita pernah tertawa bersama"

Namun ketika si Aku mencoba meniti hari-hari tanpa si Abang masih ada hal yang mengganjal/ Masih ada masalah yang menuntut penyelesaian/.

"Kamu tidak akan pernah paham betapa aku ingin mempertahankanmu meskipun aku tahu kita berbeda dalam banyak hal"

Review

Semoga kalian yang membaca ulasan ini tidak bosan ya menemukan ulasan blak-blakan atau kata-kata yang kiranya tidak.sopan. Aku akan lebih memperlembut bahasaku disini. Okay, mari kita sambut buku terbaru karya Dwitasari! *drum roll*

Aku tidak bisa menahan diriku untuk membaca karya terbaru Dwitasari. Aku membatalkan wangsitku di ulasanku yang sebelumnya Memeluk Masa Lalu untuk tidak mengikuti karya Dwitasari lagi. Padahal di artikel itu dengan jelas tidak ada guna membaca karya Dwitasari. Spend time only. Lalu pertanyaannya, mengapa aku disini dan membuat ulasan buku  Setelah Kamu Pergi yang mana merupakan karya terbaru si penulis?

Naik cetak. Yes, itu yang jadi alasanku menelusuri apa yang terkandung dalam buku ini. Rupanya,  Setelah Kamu Pergi adalah sebuah kisah romansa pasca patah hati yang mirip-mirip tulisan Boy Candra.

Tema
Tema yang diangkat sangat klise. Patah hati. Setiap orang yang pernah bercinta pasti pernah melalui masa putus cinta dan ragu pada diri sendiri untuk bangkit. Penulis mengugkapkan hal tersebut menjadi cerita yang diperankan oleh tokoh 'Aku'. Dengan menggunakan POV orang pertama pembaca akan mrasakan langsung kegalauan hati, kerapuhan seorang wanita si tokoh utama yang begitu sulit untuk lepas dari sang mantan.


"Melepasmu memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa kulakukan. Karena cinta sederhana takkan membiarkan berjuang dengan sendirian"
Dwitasari, wanita yang akan segera mengakhiri masa kuliahnya ini sejak dulu sebelum menjadi penulis dikenal sebagai selebtweet. Ia kerap mengungkapkan kisah dan pendapatnya tentang cinta lewat tweet atau status di media sosial. Tidak heran  setelah kutelusuri pembacanya rata-rata adalah remaja dan dewasa awal yang mudah sekali dibaperkan oleh kata-kata indah buatannya. Basic yang sudah membangun dirinya itu terlihat jelas dibuku ini. Membaca buku ini akan mengenalkanmu pada cara berpikir Dwitasari yang sangat dekat hal-hal rumit percintaan  yang biasa dialami orang-orang. Tapi tetap dengan sudut pandang seorang wanita.

Izinkan aku berkata jujur, aku tetap membaca buku karya penulis karena aku menyukai konsep realitas yang dipakai si penulis. Ia mungkin tidak mengalami semua masalah cinta yang ia tulis seorang diri. Pasti ia mencomot kisah cinta orang-orang disekitarnya. Tapi tema yang ia angkat seolah tak ada habisnya. Ia mencoba menuangkan satu-satu ungkapan dan isi hati mereka yang pernah terrluka karena cinta.
 
Untuk bacaan kesekian kali buku Dwitasari aku masih belum mendapatkan eksekusi maksimal dari cara ia bercerita. Walau aku akui dengan gaya bercerita ke "Aku"-an yang selalu ia terapkan  mampu menarik hati pembaca setianya. Ditambah lagi banyak kata-kata indah bertebaran di buku ini cukup menjanjikan bacaan quotable.

Okay, cukup sekian hal hal baik yang kusampaikan. Usaha si tokoh Aku untuk bangkit dan memulihkan hatinya adalah penyemangat bagi setiap orang yang membaca buku ini. Anda mencoba move on? Silakan mencoba buku ini, Anda mungkin akan ikut termotivasi atau justru hanyut dalam kata-kata si penulis. 

Disisi lain aku tak bisa bersimpati dengan tokoh utama buatan si penulis karena beberapa hal. Tokoh Aku disini  bgitu sibuk dengan perasaannya sendiri. Sibuk membanding-bandingkan hingga cerita jadi sekadar jalan ditempat. Walaupun logisnya pengobat patah hati adalah menerima keadaan fakta yang telah terjadi dan menyibukkan diri hingga hati bisa sembuh sendiri.  Terlalu lama menengok ke belakang bukan kebiasaan baik, kau tahu?. Terlalu bergantung pada apa yang pernah ia miliki sampai lupa keadaan bisa berubah. Kau tak bisa menyalahkan keadaan atau seseorang, karena manusia itu dinamis bukan statis. 

Bisa dibilang buku ini selain masih kurang karakterisasinya, tidak ada plot dan alur yang jelas. Atau jangan tidak ada sama sekali? Begitu pikirku.

Saya paham bahwa seringkali wanita yang kerap menjadi korban putus cinta apalagi dilakukan sepihak. Tapi wanita saat ini tidak selemah itu. Wanita saat ini bisa berpikir logis dan bersikap lebih dewasa pada keputusan yang mereka ambil. Agaknya justru berhati-hatilah karena dunia telah berubah. Wanita yang sangat mampu berpotensi mematahkan hati pria dan membalikkan keadaan. 

"Aku melepas pelukmu dengan harapan ini bukan yang terakhir. Namun kamu tetap pergi. Air mataku jatuh satu per satu. Tak pernah kamu gubris lagi"

Ketika membaca buku ini aku teringat buku Sebuah Usaha Melupakan, hampir sama dengan buku ini. Keduanya punya konsep sama dan gaya cerita yang hampir sama. Kalimat  indah bertebaran dan POV satu yang mirip .
Terlepas dari kekurangan di buku ini, tetap Setelah Kamu Pergi lebih baik dari pada buku-buku si penulis sebelumnya.

Selamat ber-move on ria! Jangan lupa bahagia.



7 komentar:

  1. Bukan jenis buku yang saya sukai. Dan kayaknya bakal eggak baca. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Adin ,, ku menunggu ulasan buku mu yang lainnya. Biar naikin mood bacaku yang drop belakangan ini X"""(

      Hapus
  2. antara pengen baca buku ini, tapi belum ada budget :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahh ,, semoga ada yang berniat mengadakan kuis dan promo buku ini yaa .. Sayang penerbitnya kurang gencar ngepromosikan buku lewat blogger buku macam awak :p

      Hapus
  3. pingin baca ini juga deeeh..
    tapi lagi harus nabung..
    :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mention penulisnya saja kak, biar dia merespon pembaca macam kita yang fakir buku-buku baru :D hehehe

      Hapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...