Jumat, 13 Januari 2017

[Resensi] Kata dalam Kotak Kaca Karya Pia Devina



Judul: KATA DALAM KOTAK KACA
Penulis: Pia Devina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan I, Agustus 2015
Tebal: 185 Halaman




Jana dan Pandu telah bersahabat sejak kecil. Rumah mereka berseberangan. Namun sejak delapan tahun lalu jana menyimpan perasaan pada Pandu. Hingga kini ia belum bisa mengutarakannya. Karena Pandu pun terlihat hanya menganggapnya sebagai sahabat saja.

Dulu di ulang tahun ke dua puluh dua, Jana mulai dekat dengan Angga. Pria itu hadir di perayaan ulang tahunnya dan meninggalkan tanda bahwa Angga ingin menjalin kasih dengannya. Tidak lama Jana berpacaran dengan Angga. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, apakah Pandu bahagia melihatnya bersama Angga. Padahal hati Jana sejak lama sudah tertuju padanya.

Setelah putus dari Angga, Jana resign dari pekerjaannya di Jakarta dan beralih menjadi guide tour di travel agent milik pamannya. Tapi itu bukan alasan sebenarnya, sesaat sebelum itu Pandu tengah dekat dengan gadis bernama Tiara. Pandu terlihat sangat serius dengan hubungan mereka, bahkan sudah merencanakan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahaan. Makin bulat keputusan Jana untuk menjauh dari Pandu dan perasaannya.

Suatu ketika Jana pulang ke Jakarta karena ayahnya yang sakit. Ia tidak bisa membiarkan kondisinya memburuk walaupun sudah ada ibu dan kak Dinda yang menemani. Keputusan untuk menetap kembali bersama kedua orang tuanya sempat terlintas. Namun lagi-lagi berat baginya untuk tinggal. Apalagi pernikahan Pandu akan berlangsung sebentar lagi. Ditambah lagi munculnya Angga kedalam hidupnya berhasil membuka kenangan lama masa lalu mereka.


”Mungkin aku memang benar-benar terlalu sibuk dengan keegoisanku. Terlalu sibuk memikirkan diri sendiri  yang bertambah dewasa, namun lupa bahwa usia orangtuaku juga semakin senja.”

Untuk Jana, tidak mudah ternyata berada di antara dua orang yang dulu pernah singgah di hatinya. Sikap Pandu yang semakin tidak ingin melepaskan Jana padahal sudah mendekati minggu pernikahannya. Ditambah lagi perhatian Angga yang tidak berubah sejak masa berpacaran dulu. Dan Kak Dinda yang selalu mendorong Jana untuk mengungkapkan perasaanya, walaupun Jana sendiri pesimis hal itu akan mengubah takdir persahabatannya.

Dari segi tema buku ini adalah makanan favoritku. Tema friendzone tidak pernah terasa membosankan untukku. Apalagi kenangan masa lalu selalu tak pernah habis untuk dibahas bukan?

Untuk buku setebal 182 buku ini bisa dibilang punya alur yang lambat. Penulis banyak bermain menggunakan alur mundur untuk kisah Jana dan Pandu ini. Saya jadi makin dapat mengetahui masalah cinta yang dilalui karakternya selama beberapa tahun belakangan. 

Saya bisa mengerti sekali keresahan hati Jana yang belum siap untuk melihat Pandu bersama yang lain. Apalagi mereka sudah bersama sekian lama, seperti kehilangan separuh kaki. Akan limbung saat yang satunya pergi. 

Disisi lain saya kurang suka dengan Jana yang cenderung kekanak-kanakan dan membohongi diri sendiri. Munafik. Ia  tahu dia salah namun tetap saja diteruskan. Diusia yang seperti itu bukan kedewasaan  yang  saya tangkap darinya tapi keegoisan untuk melukai hati sendiri dengan alasan demi kebahagiaan orang lain. Jana ini juga sibuk berkhayal mengharapkan dirinyalah yang akan menjadi pendamping Pandu. Lalu mengapa tidak dikatakan saja? Show up!
“Pertunangan ini adalah hal yang selalu kuimpikan. Namun, akulah yang menjadi pasangan Pandu. Lalu ... haraepan itu terawa angin dan terbang,”
Menurutku Jana adalah wanita yang terlalu mudah pasrah pada takdir. Mudah sekali menyerah, saya bisa merasakan penyesalan yang ia bagi lewat cerita ini. Tapi lama kelamaan aku melihat cinta yang ia pendam pada Pandu itu hanya semu. Bukankah jika memang betul mencintai seseorang ia tak akan ragu memperjuangkan cintanya?
“Kenyataan sering kali lebih pahit dibandingkan imajinasi. Aku menyadari baru-baru ini, sedekat apa pun kami, sesungguhnya tidak pernah ada rasa yang tumbuh di hati Pandu untukku.”
Bagian yang paling membekas untukku ada di saat Pandu mengajak Jana short trip ke Bali. Perjalanan mereka disana benar-benar singkat. Walaupun destinasi yang mereka tuju sangat mainstream, sudah sangat umum dan menurutku ‘seperti tidak ada yang lebih menarik saja’. Ucapan Pandu saat mereka menonton tari Kecak sangat membekas. Seolah sangat sulit untuknya  melepaskan Jana.

“Seandainya aku aku tidak mencintai laki-laki dihadapanku ini sejak delapan tahun lalu, mungkin aku akan akan merasa terhormat atas permintaanya. Nyatanya  aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Mungkin harus ada seseorang yang mengajariku cara memanipulasi hati.”
Pandu, aku tidak bisa berkata banyak tentang dia. Tapi sosok dialah yang membuat Jana melepaskan pria sebaiik Angga. Pandu memang cenderung protektif, sama munafiknya dengan Jana. Maaf saja kalau saya berulang kali menyebut kata ini. Tapi memang begitu adanya. Perhatiannya malah hanya dianggap sebagai hal biasa yang ditujukan sahabat dengan sahabat. Jana yang tidak paham dengan perhatian-perhatian itu akhirnya ...  Blass!! Lenyap begitu saja.

Walaupun novel ini tidak berhasil merebut hatiku hewat chemistry tokoh-tokohnya, setidaknya membuatku sadar dalam sebuah persahabatan, jatuh cinta dengan sahabat sendiri sangat mungkin terjadi. Membaca buku ini mengajariku bahwa lari dari masalah dan membohongi perasaan sendiri tidak akan mengubah apapun apalagi ini tentang hati. 

Kalau kamu saat ini sedang terjebak friendzone seperti Pandu dan Jana, bacalah novel ini. Setidaknya rasa sakit yang kalian alami bisa semakin parah bahkan dibikin hingga menitikkan air mata setelah baca buku ini.

1 komentar:

  1. Saya juga sudah membaca novel ini. Dan saya kira pesan novel yang saya pahami dengan Mbak Aya, sama, ungkapkan apa yang dirasakan, apalagi hal asmara.

    http://bukuhapudin.blogspot.co.id/2016/08/ebook-kata-dalam-kotak-kaca-by-pia.html

    BalasHapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...