Rabu, 11 Januari 2017

[Resensi] Elegi Rinaldo

Judul : Elegi Rinaldo
Penulis : Bernard Batubara
Penerbit : Falcon Publishing
Terbit : 2016
Rating : 3/5

 Sinopsis
Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Jika kau berjalan ke salah satu blok, kau akan menemukan rumah yang setiap pagi dipenuhi nyanyian Rihanna. Seorang pemuda kribo yang selalu menenteng kamera tinggal di sana bersama tantenya. Dia sering kali bersikap dingin. Dia menyimpan duka. Sisa penyesalan terdalam dua tahun lalu.

Ada gadis yang menantinya, dan ingin menamai hubungan mereka yang kian dekat. Namun, pemuda itu selalu ragu. Dia menyukai gadis itu, tetapi... selalu merasa bersalah jika memberikan tempat yang sengaja dia kosongkan di hatinya. Namanya Rinaldo. Panggil dia Aldo, tapi jangan tanya kapan dia akan melepas lajang.

Setiap orang pasti pernah kehilangan. Dibalik kehilangan pasti ada alasan, alasan untuk tetap larut dalam kesedihan, alasan untuk bertahan atau merelakan semua. Dua orang tokoh di novel itu juga mengalami kehilangan. Pengalaman yang buruk hingga salah satu dari  mereka selalu di hantui mimpi buruk. Ternyata waktu dan tuntutan pekerjaan mempertemukan mereka di sebuah cafe bernama UNO.


Namanya Aldo, seorang food photographer yang diberi tugas untuk memotret menu makanan yang disediakan di cafe UNO. Cowok berambut kribo ini tidak pernah terlalu tertarik dengan gadis disekitarnya, terutama setelah kehilangan kekasihnya yang meninggal bersamaan dengan ibu Aldo. Tapi salah seorang chef disana yang kadang tidak bisa ditebaknya membuat Aldo nyaman ingin lebih dekat dengan gadis itu. Namanya Jenny, dan ia sedang dekat dengan mantan kekasihnya.

Setelah Aldo beberapa kali datang ke UNO, Jenny banyak menghabiskan waktu dengannya. Mereka makan bersama diluar dan membicarakan banyak hal. Jenny tahu Aldo telah kehilangan ibunya. Berat baginya hidup hanya berdua dengan Tante Fitri yang pecinta lagu-lagu Rihanna dan ayah yang meninggalkannya. Aldo tinggal di salah satu rumah di komplek Blue Valley, tapi kelihatannya pria itu tidak berniat mengakrabkan diri dengan penghuni lainnya. Tapi apakah Aldo sadar diam-diam Jenny menaruh hati padanya? Pria itu sebenarnya apa yang ia pikirkan sih, jika memang suka bergeraklah! Bukankah wanita selalu ingin dikejar?

Aldo dan Jenny punya kesamaan, mereka tidak ingin menikah. Apa yang penting dan khusus dari sebuah pernikahan? Pernikahaan hanya akan mengekang, membuat mereka terlibat dalam komitmen dan yang terpenting kebebasan akan terenggut. Keputusan untuk tidak menikah juga bisa dikarenakan kehilangan orang yang dicintai, pengkhianatan hingga berakhir jera atau trauma.

***
Akhirnya aku membaca buku karangan Bara. Iya, Bara yang terkenal sering membuat tweet galau atau motivasi membaca dan menulis itu. Karena hanya itu yang ada dibayanganku tentang Bara, aku menduga-duga, mungkin bukunya kali ini juga akan terasa kelam dan sendu seperti kisah orang-orang yang kesepian. Tapi ternyata bayanganku-yah untuk saat ini terjadi. Membaca buku ini lebih kepada interaksi dua Aldo-Jenny yang sama-sama memendam luka lama.

Tidak perlu berekspektasi besar pada buku ini. Elegi Rinaldo memberikan kisah manis yang sederhana tentang dua orang yang pernah kehilangan. Tentu tidak mudah karena kehilangan bisa menjadi trauma dan mengubah mindset seseorang terutama tentang pernikahan. Kalian yang beranggapan bahwa menikah itu tidak penting, di usia menjelang 30 masih saja bermain-main dengan perasaan, tidak ingin membangun komitmen dan menjunjung tinggi kebebasan sepertinya akan relate dengan buku ini. Bara sangat tahu cara memanjakan pembacanya dengan kisah sederhana, diksi yang tidak berlebihan dan realistis.

Adegan favoritku ada di saat Aldo datang untuk menemui Jenny, tapi ternyata Jenny sedang bersama Dipa lalu pergi jalan bersama Keberadaan Dipa ini memang jadi pengganggu sekali. Karenanya Aldo jadi membatalkan rencana untuk mengajak Jenny pergi. Tapi di sisi lain Jenny berharap Aldo mengajaknya lebih dulu atau istilahnya 'Gerak Cepat'. Agak klise dan kekanak-kanakan sih, tapi nikmati sajalah.

Saat membaca buku ini aku dibuat berakhyal bagaimana nantinya jika Elegi Rinaldo di FTV-kan atau naik ke layar kaca. Siapa yang akan mewakili si kribo Aldo dengan kecuekannya namun hatinya yang rapuh dan pasif. Sementara Jenny yang baik hatinya dan juga penyuka panda­čÉ╝.

Ini buku kedua seri Blue Valley yang aku baca. Tapi kenapa tidak ada hubungan sama sekali dengan penghuni Blue Valley lainnya ya? Walaupun Aldo cenderung individualistis, khas pria urban saat ini tapi mestinya ada porsi yang melibatkan dia dengan penghuni lain. Menurutku Aldo ini tipikal pria yang membosankan, di pikirannya hanya ada dirinya sendiri, kerinduannya, kurang lah pokoknya. Akhirnya pembawaan cerita si penulis jadi datar dan monoton.

Terlepas dari catatan itu buku ini termasuk ringan dan sederhana. Hanya sekitar 200 halaman tapi cukup menghibur dan romantis. Kalau kalian pembaca setia Bara, tentu buku ini tidak boleh dilewatkan. Tapi pastikan kamu cukup dewasa untuk membaca buku ini yaa. Karena ada adegan kissing disini. hehehe.



2 komentar:

  1. Sepertinya hanya buku ini ya yang tokohnya introvet dan tidak ada interaksi dg penghuni Blue Valley lain? Jadi nuansa blue valley-nya ngga kerasa gitu. Tapi terlepas dari itu, aku nyimpen Elegi Rinaldo di urutan terakhir dari buku blue valley yang aku baca. Soalnya naruh ekspektasi yang cukup tinggi ama ceritanya, semoga bisa memuaskan deh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, setelah ditelisik si penulisnya terinspirasi dari Haruki M makanya si Aldo dibuat jadi cowok intro. Kapan lagi lihat cowok kribo dan suka pnada selain di novel ini :D hahaha. Selamat membaca kisah si krino Aldo yaa

      Hapus

Appeciate with my pleasure.

~ VS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...